Kembali Jadi Content Writer



Di awal-awal tahun 2023 ini aku dapat job menulis konten untuk sebuah platform edukasi. Ceritanya dia butuh artikel untuk mempertahankan websitenya di peringkat atas google. Saat itu websitenya masih berada di peringkat 2 google dengan keyword pendek.

Dalam proses menulisnya aku rekrut dua penulis konten yang aku hire lewat Facebook. Satu adalah penulis konten yang sudah kukenal tetapi satunya adalah penulis konten dari hasil hiring. Aku butuh penulis lain karena awalnya aku ingin punya tim penulis. Jadi bila banyak order maka aku sudah nggak kewalahan lagi karena sepengalamanku menulis konten di website itu butuh konsistensi. Apalagi jika itu konten SEO yang membutuhkan waktu untuk bisa naik peringkat.

Namun ternyata tak semudah yang dibayangkan. Hasil tulisan kami aku serahkan pada klien untuk dikoreksi. Dan cukup banyak koreksiannya, terutama untuk hasil tulisan dari penulis konten yang aku hire dari Facebook. Waktu itu lebih dari sekali aku harus merevisinya.

Revisi yang pertama ku kembalikan pada penulis masing-masing. Harapannya maksimal 3 hari bisa dikirim lagi ke klien tetapi tidak, seminggu lebih revisi baru selesai. Cukup menguji kesabaran waktu itu.

Karena pengalaman revisi pertama yang cukup lama, maka kuputuskan untuk melakukan revisi kedua sendiri. Dan penulis yang banyak revisinya tersebut, yang aku hire dari Facebook, aku bayar fee-nya sebelum klien membayarku. Karena aku merasa bertanggung jawab pada keduanya, yaitu pada penulis dan kien, sehingga lebih baik ku selesaikan dulu salah satunya.

Amannya sih klien tersebut juga tidak memberi deadline buru-buru, sekitar 2 minggu. Jadi setelah aku revisi semua, pengecekan final setiap kata dan keyword, density keyword untuk SEO, aku pun mengirimnya pada klien. Klien pun akhirnya oke. Dan untuk postingnya aku diberikan password sendiri untuk akses masuk website. Namun itu pun baru diberikan setelah sekian minggu. Jadi total nulis sampai aku posting bisa hampir 2 bulan. Otomatis pembayaran pun juga terlambat waktu itu.

Entah kenapa waktu itu aku baper banget ya sebagai content writer. Pertama, karena banyak freelancer menawarkan jasa menulis artikel tetapi hasilnya sangat tidak memuaskan. Tapi kupikir kembali mungkin karena dia juga memberikan rate yang relative rendah saat itu. Jadi aku juga nggak bisa nyalahin kan. Kedua, karena kompetensi yang kurang dari penulis maka banyak revisi dari klien. Namun di sini klien juga merasa lebih pandai dari penulisnya sih masalahnya. Kalau begitu mending Anda nulis sendiri kan? Kalau alasan nggak ada waktu untuk nulis, ya hargain jasa menulis orang lain. Karena kami juga menyisihkan waktu kami untuk nulis. Jadi hargai juga waktu dan skill kami.

Dari kejadian itu aku cukup nggak percaya diri lagi buat jadi content writer. Aku coba mengubah brandingku dari penulis artikel menjadi penulis buku dengan ikut webinar untuk meningkatkan skill dan membukukan tulisanku untuk bukti bahwa aku punya buku solo. Aku berhasil membukukan satu buku tapi itu pun kumpulan artikel yang kubuat dulu tahun 2019.

Kini aku sedang mengerjakan sebuah buku novel biografi tentang memoar pendamping pasien GGK dan buku kumpulan kisah hijrah dari riba. Dan aku malah kembali rindu menjadi content writer lagi.

Aku merasa belum ada yang berhasil dari upayaku menjadi penulis. Mulai dari penulis artikel, penulis e-book, penulis buku. Pemikiranku itu karena aku belum bisa menghasilkan banyak dari menulis. Kenapa patokannya nominal? Karena ada sesuatu yang harus aku selesaikan. Dan aku berharap bisa menyelesaikannya dari hasil menulis.

Apakah salah jika patokan keberhasilanku adalah uang?

Ternyata tidak juga. Aku membaca e-book Kadika, founder Impactful Writing, bahwa nggak ada salahnya menjadi penulis yang menghasilkan. Karena untuk bisa menghasilkan tulisan yang bagus kita butuh asupan yang cukup juga untuk otak kita, seperti beli buku, ikut workshop, dll yang bisa menaikkan skill kita.

Nampaknya dalam dunia content writer ini pun harus dibedakan juga antara penulis dan pasarnya. Mungkin yang bilang jasa nulis kok mahal, padahal cuma nulis doank. Berarti klien itu belum pasar kita. Nah, yang bilang gini mungkin akan lebih sreg dengan penulis-penulis yang ratenya masih ribuan, belasan ribu, dan paling tinggi 30 ribu untuk 1000 kata. Harusnya klien yang sudah teredukasi bahwa menulis itu butuh skill, waktu, dan psikologis yang baik, akan memberikan rate yang sesuai. Kalau aku lihat ada juga yang berani membayar ratusan ribu untuk sebuah artikel.

 

Jadi Content Writer Butuh Followers?

Banyak yang meragukan aku awalnya karena followers masih seratusan. Padahal akun IG ku itu baru. Dan sebenarnya nggak perlu juga followers banyak, karena kan content writer, bukan content creator.

Pendapat ini semakin menguatkan aku ketika aku bertanya pada mentor menulis saya, yaitu Mas Anang YB. Apakah followers itu berpengaruh terhadap laku tidaknya tulisan kita? Jawab sang mentor adalah jumlah followers tidak berpengaruh pada kualitas tulisan dari penulis.

Aku kembali merindukan jadi content writer karena flashback juga dari menulis konten awalnya dulu aku bisa dapat uang setelah lulus kuliah. Meski belum bisa dikatakan banyak, tetapi cukup saat dibutuhkan. Aku juga kembali menulis artikel setelah resign dari bank. Sambil menunggu bapakku yang sedang cuci darah, aku pun menulis.

Lebih dari itu, dari menulis artikel aku juga jadi banyak baca-baca lagi. Dan kesadaranku yang otentik mulai terbentuk setelah aku meluangkan waktu untuk lebih banyak membaca. Waktu itu baca apa saja yang ada karena belum bisa beli buku baru.

Lewat artikel ini aku ingin sampaikan bahwa jadi content writer tak seharusnya jadi kerjaan sampingan yang dipandang sebelah mata, baik dari sisi penulis maupun klien. Jangan hanya karena kamu butuh uang dan tiba-tiba memutuskan jadi penulis artikel tanpa skill yang dimiliki. Karena alhasil tulisanmu akan ambyar dan tidak mengedukasi pembaca. Dan jangan hanya karena kamu butuh artikel untuk mengisi websitemu agar page one di google lantas kamu berpendapat yang penting websitenya diisi artikel sehingga mencari penulis dengan rate rendah. Jangan yaa Sist n Broo…!!

Sudah saatnya para content writer naik level. Karena kini era informasi yangmana skill menulis akan sangat dibutuhkan. Tidak hanya untuk mengisi kekosongan sebuah website, tetapi untuk memberikan bacaan yang berkualitas.

Post a Comment for "Kembali Jadi Content Writer"