Alasan Kenapa Banyak yang Nggak Bisa Bertahan Kuliah di Jerman
![]() |
| Sumber Gambar : www.gokampus.com |
Mencari tahu informasi tentang
Jerman dan kuliah di Jerman, pasti kamu akan menemukan banyak video di youtube
mengenai tips bisa bertahan kuliah di Jerman. Karena cukup banyak cerita yang
disembunyikan tentang mereka yang gagal menyelesaikan kuliah di Jerman.
Jadi sebenarnya kita perlu nggak
sih cari tahu informasi mengenai orang-orang yang gagal tersebut?
Apakah akan justru menyurutkan
semangat kita? Bikin hati bukannya tambah yakin, tapi malah nyali semakin
menciut.
Kebanyakan mereka yang berani
share tips memang sudah selesai, atau minimal bisa bertahan dengan menemukan
cara untuk bisa terus bertahan hidup di negeri orang. Saya jarang, hampir tidak
menemukan yang share tentang kegagalan saat kuliah di luar negeri.
Success Story Vs Failed Story
Menurut saya justru penting
banget lho buat kita cari tahu sebanyak-banyak pengalaman kegagalan orang lain
saat hidup di negara lain, terutama yang tujuannya adalah kuliah. Supaya apa?
Supaya kita banyak belajar
tentang apa saja yang bikin orang lain itu gagal. Jadi kita tidak mengulanginya
dalam kehidupan kita.
Namun tentu saja failed story itu
tidak mudah untuk ditemukan. Karena sifat dasar manusia yang nggak mau
diketahui tentang kegagalannya. Dan pikiran “ah, ngapain dishare? Kan ini
gagal, nggak ada gunanya buat orang lain”.
Padahal failed story itu malahan
sangat berguna banget buat orang lain. Makanya saya salut banget sama
orang-orang yang bersedia dengan hati lapang menceritakan pengalaman hidupnya
yang gagal. Disitu pasti ada celah bagaimana dia kemudian bangkit. Bisa jadi masih
berusaha bertahan dan sedang menghabiskan jatah gagalnya, atau pindah haluan ke
bidang lain.
Namun memang, bercerita tentang
sisi kehidupan diri kita yang gagal itu bukan hal yang mudah.
Bahkan Muniba Mazari, The Iron
Lady of Pakistan, sering berkata diopening speechnya. Bahwa saat kamu bisa
membagikan cerita hidupmu yang menyakitkan pada orang lain, itu artinya kamu
sudah sembuh.
Alasan Kenapa Banyak yang Nggak Bertahan Kuliah di Jerman
Cerita-cerita ini saya dapatkan
dari mereka yang akhirnya mampu mengubah mindset dan hidup mereka di tengah perjalanan
saat menuju kegagalan. Jadi mereka lebih peka “wah, kira-kira kalau aku
terus-terusan begini bakalan gagal nih bertahan kuliah di Jerman”…
1.
Belum
menemukan “why” yang kuat
Diawal-awal kita
butuh alasan yang cukup kuat, yang tak terpatahkan, ketika memutuskan akan
kuliah di Jerman. Sebenarnya ini nggak hanya berlaku di Jerman, tetapi juga negara-negara
lain.
Ingat cerita
dari Gita Savitri yang saat ini hidup di Jerman bersama suaminya? Nah, dia ini
bercerita jika awal ingin kuliah di Jerman karena dia merasa itu keren. Jiwa kompetitifnya
dan rasa bahwa aku harus lebih hebat dari siapapun itu tertanam sejak kecil di
dirinya. Ya, ini berdasarkan ceritanya sendiri karena ibunya sejak kecil
mendidiknya untuk jadi anak yang sempurna. Singkatnya diawal kehidupan studinya
di Jerman adalah masa yang paling sulit menurutnya, dan dia hampir menyerah. Banyak
kendala yang dia hadapi saat itu. Untungnya dia mampu mengubah mindset bahwa tujuannya
kuliah di Jerman bukan lah mencari wah saja, tetapi memang dia butuh masa depan
dan dia ingin membuktikan bahwa dia bukan lah anak yang manja. Dia bertekad
harus berhasil. Kamu bisa menonton film kisah perjalanan Gita ini yang berjudul
“Rentang Kisah”.
Jadi butuh
banget alasan yang sangat kuat dari dirimu sendiri untuk memilih kuliah di luar
negeri.
2.
Kurang
informasi
Nah, hal kedua
yang bisa bikin menyerah ditengah jalan adalah kurangnya informasi sebelum kamu
memutuskan dan berangkat menjadi anak rantau. Setidaknya kamu perlu tahu dulu tentang
negara dan kampus yang akan kamu tuju. Apa saja yang perlu diketahui? Banyak hal.
Mulai dari bahasa, budaya, tempat tinggal, makanan, transportasi, tempat
wisata, dll.
Kalau saya supaya
tertarik dengan suatu negara biasanya saya lebih trigger menggunakan apa yang
membuat tertarik secara emosional. Contohnya saya suka Jerman karena dari dulu
saya suka menjagokan Jerman saat world cup. Saya suka Jerman karena bahasanya
menarik. Saya suka Jerman karena tertarik dengan cerita peradaban Islam di
Eropa Barat.
Saat kamu
kekurangan informasi mengenai negara yang kamu tuju, biasanya kamu akan merasa
shock saat mendapati keadaan yang diluar harapanmu. Dan kamu merasa keadaan itu
begitu sulit akhirnya kamu memilih untuk pulang ke Indonesia aja deh.
3.
Susah
sosialisasi vs kebanyakan bersosialisasi
Susah
sosialisasi juga bisa menghambat saat hidup di negara orang. Namun buat kamu
yang introvert sih tenang aja. Bersosialisasi di negara asing nggak seperti di
Indonesia, dimana kamu nggak enakan kalau nggak ikutan. Di sana orang lain
lebih menghargai privacy kita. Maksudnya mudah bersosialisasi adalah kamu bisa
bertanya saat membutuhkan bantuan orang, kamu bisa membantu orang lain tanpa
mencampuri urusannya lebih dalam, dll.
Kebalikannya dengan
kebanyakan bersosialisasi ini aku dapat dari cerita seseorang di youtube,
dimana dia kebanyakan bergaul jadi tidak bisa mengatur waktu untuk studinya.
Jadi pintar-pintar mencari teman saat hidup di rantau itu juga penting sekali. Kamu
masih berhak kok cari teman yang kamu nyaman untuk kamu jadikan circle kamu. Yang
sekiranya tujuannya sama denganmu. Pasti kan nggak semua mahasiswa di sana cuma
mau hidup bersenang-senang.
4.
Kemampuan
adaptasi diri
Perhatikan juga
kemampuan diri untuk beradaptasi. Apakah sejauh ini kamu cukup adaptable? Saat hidup
di rantau kamu akan merasa banyak hal yang asing. Nah, tugas kamu adalah
membuat hal-hal yang asing itu menjadi asyik. Kamu nggak harus berjiwa petualang
juga, tetapi cukup bisa memahami situasi saja.
Ada yang bilang
biasanya anak mama (red:anak manja) nggak akan bisa bertahan di tanah rantau. Namun
sebenarnya nggak sepenuhnya benar. Mungkin saat dekat dengan orangtua kamu
pasti akan dimanjakan. Tapi saat kamu jauh dari orangtua, kamu bisa memilih
untuk hidup lebih mandiri. Kuncinya adalah pahami situasi dimana kamu berada.
5.
Kendala
bahasa
Salah satu atau
banyak yang merasa paling gagal di bagian ini, adalah kendala bahasa. Bagi
mahasiswa S2 tantangannya akan berbeda dengan S3. Dan bagi yang memilih S1 di Jerman
pun berbeda tantangannya dengan S2.
Sesuai informasi yang
saya kulik-kulik dari berbagai sumber, jenjang S1 dan S2 lebih banyak
menggunakan literatur berbahasa Jerman. Dan memang di negara Jerman, bahasa
Inggris itu bukan bahasa utama mereka. Jadi ketika kamu memutuskan kuliah di
Jerman, kamu akan dites dulu seberapa jauh kemampuan kamu berbahasa Jerman.
Jika belum sesuai standar yang diterapkan pemerintah Jerman bagi mahasiswa atau
warga asing yang bekerja di Jerman, maka bisa belajar bahasa Jerman dulu di Goethe
Institut. Itu adalah tempat les bahasa Jerman yang cukup terkenal dan rekomendasi
banyak orang.
Semua alasan yang saya paparkan
di atas sekaligus juga bisa menjadi tips buat kamu agar bisa terus bertahan
hingga selesai studi di Jerman. Sebenarnya nggak berlaku hanya untuk Jerman,
tetapi dimanapun pilihan kamu nanti. Yang namanya hidup bukan di negara
sendiri, pasti banyak hal yang harus kamu ketahui dan kamu pun harus bisa
menyesuaikan diri agar bertahan.
Nah, buat kamu yang kesulitan
mencari tempat kursus bahasa Jerman terbaik di Indonesia, sebelum memutuskan
berangkat ke Jerman, kamu bisa memilih Inovedu untuk mengasah kemampuan kamu
berbahasa Jerman. Ada sertifikatnya juga lho!

Post a Comment for "Alasan Kenapa Banyak yang Nggak Bisa Bertahan Kuliah di Jerman"
Post a Comment