Kisahku : Gagal Lalu Bangkit

 


Kegagalan demi kegagalan dalam setiap usahaku memang tak jarang membuatku terpuruk. Namun dari kegagalan itulah aku belajar bangkit lagi dan lagi.

Kali ini saya ingin berbagi kisah tentang kegagalan-kegagalan yang kualami selama ini. Dan apa yang akhirnya bisa membuat diriku bangkit.

Sejak kecil saya sudah merasa sering mengalami kegagalan. Dalam hal akademik, saya selalu menjadi nomor 5 - 10 sejak mulai duduk di bangku SD. Namun pada saat kelas 6 akhirnya Allah memberikan kesempatan pada saya untuk menjadi juara kelas di Ujian Nasional. Caranya bagaimana? Padahal rasanya sempat kecewa ketika tak selalu menjadi pilihan guru untuk mengikuti lomba di luar sekolah. Nah, dari perasaan itulah saya mencoba memaksimalkan diri saya untuk belajar lebih rajin setiap hari menjelang ujian. Jika biasanya hanya 2 jam belajar, maka saya menambahnya menjadi 4-5 jam.

Hal yang sama terjadi ketika lulus SMP saya gagal meraih nilai yang bagus. Alhasil diantara teman-teman yang biasa belajar dan bermain bersama, saya harus gagal melanjutkan ke SMA yang menjadi impian saya. Namun setelah lulus SMA saya bertekad, meski dari SMA bukan favorit tetapi saya ingin membuktikan bahwa saya bisa kuliah di UGM. SPBM tahun 2007 pun saya gagal masuk di UGM dan masuk pada pilihan ke-2, yaitu di UNDIP. Merasa tidak cocok dengan kampus tersebut, maka saya memutuskan untuk drop out dan mendaftar kembali tahun depan di UGM. Saat itu bukan hal yang mudah bagi saya, banyak drama dari keluarga yang menyayangkan keputusan saya tersebut. Dan tidak jarang juga yang meragukan apakah saya bisa lolos masuk UGM atau tidak.

Singkat cerita akhirnya saya pun lolos masuk UGM, meski harus mengambil gap year selama 1 tahun. Selama 1 tahun itu saya memilih untuk belajar mengikuti bimbel menjelang UM UGM. Dan belajar sendiri dengan berusaha memahami pola soal yang biasa diujikan. Alhamdulillah tahun 2008 saya berhasil menjadi mahasiswa FISIPOL UGM.

Namun kegagalan tak juga menjauhi hidup saya. Meski saya sudah diterima di kampus impian saya. Saya masih harus berjuang bertahan dan bisa menyelesaikan kuliah tepat waktu. Saat kuliah yang saya ingat adalah saya gagal memenuhi mimpi saya untuk lebih aktif di kampus. Saya kurang menyadari betapa pentingnya komunikasi yang baik dan menjalin relasi dengan dosen maupun teman dan lainnya. Saya tidak memikirkan sejauh bahwa saya akan membutuhkan relasi-relasi tersebut saat nanti selesai kuliah dan memulai karier. Bahkan mau jadi apa setelah lulus kuliah pun saya masih bingung.

Hal itu karena saya terlalu fokus pada apa yang tidak saya miliki waktu itu. Saya lebih fokus bagaimana cara menghemat uang saku. Dan akhirnya saya tidak melakukan apa-apa. Mahasiswa kupu-kupu saat itu sebutannya, kuliah-pulang kuliah-pulang. Saya pun merasa minder jika bergaul dengan teman-teman yang status sosialnya di atas keluarga saya. Saya gagal mengenal dan menerima diri sendiri waktu itu.

Namun upayaku untuk lulus tepat waktu cukup berhasil. Tahun 2012, tepat 4 tahun kuliah, akhirnya saya diwisuda. Saya sangat bersyukur saat itu, karena yang ada dalam pikiran saya adalah tidak menjadi beban berlama-lama bagi pakdhe yang membiayai kuliah.

Impian untuk bekerja di kedutaan besar pun sirna karena rasa minder dan lebih fokus pada yang penting bisa dapat kerjaan dulu, bisa kasih uang ke ortu dan saudara-saudara dulu. Akhirnya saya mendapat pekerjaan di bank BUMN setelah setahun menganggur. Kadang saya juga mendapat job sebagai content writer saat menganggur dan uangnya bisa untuk biaya melamar pekerjaan.

Apakah saat bekerja di bank saya merasa gagal?

Tidak. Karena saya berhasil bertahan dan menjadi pegawai tetap di sana. Selama hampir 6 tahun saya bekerja sebagai bankir. Dan pada tahun 2018 itu saya mengajukan resign karena masalah yang menurut saya sangat principal. Di lain sisi juga ayah sedang sakit gagal ginjal dan harus cuci darah 2x dalam seminggu.

Saat saya memutuskan resign dan berniat merawat ayah karena saya adalah anak tunggal, ujian pun berdatangan. Saya tidak bisa menjalin komunikasi yang baik dengan saudara-saudara saya dalam hal merawat ayah saya. Banyak yang terlibat saat itu dan lagi-lagi saya gagal memenuhi apa yang saya inginkan. Saya memilih menjauh dari ayah dan keluarga karena saya merasa mental saya tak akan tertolong lagi jika harus diteruskan berada di sekitar mereka.

Saya gagal memperbaiki respon diri saya mengenai hal-hal yang terjadi di luar kendali saya. Dan itu membuat saya merasa semakin terpuruk setelah resign.

Butuh waktu yang cukup lama hingga saat ini saya mencoba menyembuhkan diri saya sendiri. Yang saya syukuri adalah pertolongan Allah untuk saya dan suami dalam memperbaiki finansial kami sehingga bisa hidup lebih mandiri.

 

Kegagalan dalam Setiap Usaha

Karena tanggungan yang masih menjadi tanggung jawab berupa hutang di kantor tempat bekerja saya dulu. Jadi saya terlalu fokus mengejar uang yang hingga kini belum berhasil saya kejar.

Akhirnya pun saya lelah. Saya ingin mengikuti saja jalan yang sudah ditakdirkan Allah untuk saya. Saya mencoba terus yakin dari hari ke hari bahwa suatu hari akan datang waktunya Allah memampukan saya untuk menyelesaikan semua kewajiban itu. Saya hanya perlu menunggu sambil terus belajar memperbaiki diri.

Saya pernah usaha dagang online, menjual jilbab dan distro muslim. Namun belum berhasil. Saya pernah membuka petshop, tetapi tidak ada setahun harus tutup. Saya pernah jualan property Syariah karena iming-iming hasil yang besar, tetapi belum juga bisa menjual 1 unit pun. Bahkan tertipu oleh uang ghaib pun pernah, karena lemahnya iman. Beberapa waktu lalu pun saya tertipu orang yang mengaku nasabah saya dulu.

Namun saya bisa menghasilkan uang, meski belum banyak, dari menulis. Saya menjadi content writer. Saya menyukai kegiatan menulis, terlebih menulis kisah-kisah inspiratif. Karena perlahan saya bisa sembuh juga disebabkan membaca dan menulis kembali kisah-kisah hidup orang lain. Saya merasa tidak lagi sendirian merasakan ini semua. Merasakan kegagalan yang seperti bertubi-tubi datang.

Dan saat ini saya ingin fokus menjadi penulis kisah hidup. Dari hasil wawancara dengan berbagai narasumber, saya merasa menikmatinya sebagai pendengar. Banyak hal yang terjadi dalam hidup setiap manusia, dan banyak hal yang bisa dipetik pelajarannya. Membuat seseorang setidaknya merasa tidak sendirian, seperti yang saya alami, itupun sudah cukup membuat saya senang. Apalagi jika bisa mengubah hidup banyak orang. Setidaknya itulah warisan yang kelak akan saya tinggalkan jika sudah saatnya untuk saya kembali.

Jadi kegagalan itu justru bisa menjadi pilihan. Itulah kata Muniba Mazari, the iron lady of Pakistan. Yang tidak boleh kita lakukan adalah menyerah. Don’t die before your death.

Karena dengan gagal, kita bisa belajar untuk bangkit. Tak apa gagal berkali-kali karena kamu hanya akan menemukan banyak cara untuk bangkit lagi.

Inilah cikal bakal mengapa saya ingin membuat podcast yang berisi kisah-kisah inspiratif dari orang-orang terdekat.

Post a Comment for "Kisahku : Gagal Lalu Bangkit"