Setiap Privilege Butuh Pertanggungjawaban

 

Berbicara mengenai privilege, memang setiap orang pasti memiliki privilege yang berbeda-beda. Sebelum kita lebih jauh membicarakan mengenai privilege dalam bentuk nyata keseharian kita, maka perlu kita pahami dulu apa sih arti privilege itu sendiri.

Melansir dari sumber Wikipedia, privilege dalam bahasa Indonesia yang artinya hak istimewa merupakan hak yang dimiliki oleh seseorang atau sekelompok orang, namun tidak dimiliki oleh pihak lainnya.

Dari pengertian tersebut sudah cukup jelas bahwa tidak semua orang memiliki hak yang sama. Itu artinya berkaitan dengan kemampuan seseorang dalam hal bagaimana dia menjalani kehidupan.

Jadi untuk menjalani sebuah kehidupan ini, seorang presiden tidak akan sama dengan rakyat biasa, seorang pelajar tidak akan sama dengan seorang pekerja, pun seorang perempuan tak akan sama dengan laki-laki. Bukan kah privilege ini secara tersirat juga merupakan jalan hidup yang sudah ditakdirkan oleh Allah SWT?

Namun pada kenyataannya banyak yang masih merasa tidak adil dalam memandang privilege seseorang. Padahal privilege tak lepas dari peran seseorang dalam menjalani kehidupan. Dan apa-apa yang kita lakukan dalam hidup pasti kelak harus kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Misalnya, seorang pemimpin diberi privilege berbagai kemudahan dalam akses di masyarakat, tetapi dibalik privilegenya tersebut ada kewajiban yang melekat pada peran yang dia jalankan. Sehingga kelak seorang pemimpin harus mempertanggungjawabkan apa saja yang telah dia lakukan saat menjadi pemimpin di dunia, apakah dia lebih banyak membimbing rakyat ke jalan yang benar atau sebaliknya? Apakah dia sudah bersikap adil atau tidak?

 

Bagaimana Jika Merasa Under Privilege?

Pertanyaannya kemudian yang muncul adalah apakah jika privilege itu dari Allah kita tidak boleh merasa iri?

“Duh, kok aku susah banget yang bisa masuk kampus itu. Padahal dia gampang banget tuh, ya iyalah karena bapaknya yang punya kampus…”

“Ya iyalah dia bisa, karena duitnya banyak…”

“Ya iyalah otomatis dia lolos, karena anak jendral…”

Pasti kamu pernah dengar segala bentuk keluhan orang-orang yang merasa nggak punya privilege ini kan? Termasuk saya juga pun tak luput pernah merasa under privilege. Apalagi disaat iman lagi turun ditambah kondisi yang tidak mendukung, nggak sesuai dengan apa yang diinginkan, maka perasaan kecewa karena ‘tidak bisa’ itu semakin menjadi-jadi.

Berkaitan dengan perasaan under privilege itu, ternyata jawabannya adalah tentang passion kita. Dan mengenai passion yang ada pada diri kita itu sudah secara spesifik disebutkan dalam QS. Al Isro’ Ayat 84. Saya pun mengetahui ini setelah melihat podcast yang dipandu oleh Qoonit, seorang penulis.

Disebutkan dalam firman Allah SWT dalam ayat tersebut yang artinya Katakanlah (Muhammad), “Setiap orang berbuat sesuai dengan pembawaannya masing-masing.” Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.

Secara tafsir terjemahan ayat tersebut adalah Allah memerintahkan Nabi Muhammad untuk menyampaikan kepada umatnya agar mereka bekerja menurut potensi dan kecenderungan masing-masing. Semuanya dipersilakan bekerja menurut tabiat, watak, kehendak, dan kecenderungan masing-masing. Allah SWT sebagai penguasa semesta alam mengetahui siapa diantara manusia yang mengikuti kebenaran dan siapa diantara mereka yang mengikuti kebatilan. Semuanya nanti akan diberi keputusan yang adil.

Jadi saya harap kamu pun tidak lagi merasa under privilege setelah memahami firman Allah di atas. Saya pun jadi lebih paham jika setiap manusia sudah diberi takaran kemampuan masing-masing. Apa yang kita dapatkan tidak bisa sama.

Hanya jika keresahan itu timbul saat kita belum menemukan apa sih kelebihan kita, yang menjadi potensi untuk bisa membuat kita menjadi manusia yang lebih bermanfaat.

Kuncinya terus lah mencari. Tak ada manusia yang tiba-tiba diberi kemampuan tanpa usaha. Hanya para nabi dan rasul yang langsung diberi wahyu oleh Allah SWT, itupun melalui proses masing-masing.

Jika saat ini kita belum tahu apa yang menjadi potensi diri kita, maka jangan putus asa untuk terus mencoba dan memohon petunjuk Allah agar senantiasa memberikan kita jalan menuju apa yang menjadi takdir hidup kita.

Dan jangan lupa setiap potensi yang dimiliki pada akhirnya akan kita pertanggungjawabkan di hari akhir. Saat itu juga apa yang telah kita lakukan di dunia ini akan mendapatkan keputusan yang seadil-adilnya.


Seperti gambar SIM di atas. Seseorang yang memiliki SIM artinya dia memiliki kemampuan untuk mengendarai kendaraan dan privilegenya dia bisa pergi kemana pun dengan tetap mematuhi peraturan yang berlaku. Pemilik SIM tersebut jangan dikira lepas dari tanggung jawabnya. Dia masih memiliki tanggung jawab terhadap keselamatan selama berkendaraan, baik keselamatan dirinya maupun orang lain.

Jangan iri pada pencapaian, kemampuan, dan privilege orang lain. Karena kelak mereka pun akan mempertanggungjawabkan itu semua di hadapan Allah SWT. Cukup lah diri kita hari ini.  


Post a Comment for "Setiap Privilege Butuh Pertanggungjawaban"